MEDAN, BELAWAN – Kinerja operasional di Belawan New Container Terminal (BNCT) kembali menjadi sorotan tajam dari para pengguna jasa dan pengemudi angkutan logistik. Pasalnya, aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas tersebut dilaporkan mengalami kendala yang menyebabkan antrean panjang kendaraan di dalam area pelabuhan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah sopir truk kontainer mengeluhkan lambatnya proses pelayanan operasional. Hal ini diduga dipicu oleh ketidaksiapan alat pendukung bongkar muat serta manajemen pengaturan arus kendaraan yang belum optimal. Kondisi ini mengakibatkan waktu tunggu (dwelling time) bagi truk di dalam dermaga membengkak, yang secara langsung merugikan operasional logistik para pengusaha angkutan.
Akses Jalan Rusak Menambah Beban
Selain masalah kemacetan bongkar muat, kondisi infrastruktur jalan di kawasan Pelabuhan Belawan menuju area terminal juga semakin memprihatinkan. Jalanan yang berlubang dan bergelombang di beberapa titik vital disebut-sebut menjadi "biang kerok" kerusakan komponen kendaraan hingga meningkatnya risiko kecelakaan kerja bagi para sopir.
"Kami sudah berjam-jam antre di dalam, tapi proses bongkar muat terasa lambat sekali. Begitu keluar, kami harus menghadapi jalan rusak yang bisa merusak as roda truk. Kondisi ini sangat kontras dengan status terminal internasional yang seharusnya serba cepat dan mulus," ujar salah satu sopir di lokasi.
Tuntutan Perbaikan Kinerja
Publik dan pelaku usaha logistik kini mempertanyakan efektivitas kinerja manajemen BNCT dalam menjaga stabilitas arus barang ekspor-impor. Kehadiran BNCT yang diharapkan menjadi solusi modernisasi pelabuhan justru dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi di lapangan jika masalah dasar seperti keandalan alat dan kualitas jalan tidak segera ditangani.
Pihak terkait, termasuk PT Pelindo dan manajemen terminal, diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap:
1. Keandalan Alat Bongkar Muat: Memastikan seluruh unit Container Crane dan Gantry Crane berfungsi maksimal.
2. Perbaikan Infrastruktur: Melakukan perbaikan darurat pada akses jalan raya pelabuhan yang rusak parah.
3. Transparansi Layanan: Memberikan informasi real-time terkait kendala sistem atau alat agar sopir tidak terjebak antrean tanpa kepastian.
Hingga berita ini diturunkan, para pengguna jasa mendesak adanya tindakan nyata dari otoritas pelabuhan guna menghindari kerugian ekonomi yang lebih besar bagi sektor logistik di Sumatera Utara.(AL)



0 Komentar